Selasa, 19 April 2011

Sang Penentram Hati

Dear Sang Penentram Hati,


mungkin kau sedang menentramkan hati yang lain
atau malah sedang mencari hati yang ingin kau tentramkan
aku tidak peduli
aku tetap abadi dalam penantian


by. nana daesri

Ps. Thanks for your laugh and happiness . . .

Kamis, 14 April 2011

Langit Hatiku Masih Biru

 Langit hatiku masih biru
akankah kau melukis di langit hatiku ?
 


Sumber gambar : www.mboh-ah.blogspot.com

by. nana daesri

Rabu, 06 April 2011

Siapa Jalaludin Rumi ?

Rumi memang bukan sekedar penyair, tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya.  Rumi adalah guru nomor satu Thariqat  Maulawiyah, sebuah thariqat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya.  Thariqat maulawiyah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun 1648.

Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.  Di zamannya, umat islam memang sedang dilanda penyakit itu.  bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal.  Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.

Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang gaib.  Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.


Taken from : http://penyair wordpress.com

Selasa, 05 April 2011

Kembali Pada Tuhan

by. Jalaludin Rumi

Jika engkau belum mempunyai ilmu,
hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik
tentang Tuhan
begitulah caranya !

Jika engkau hanya mampu merangkak
maka merangkaklah

Jika engkau belum mampu
berdo'a dengan khusyuk
maka tetaplah persembahkan do'amu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan
karena Tuhan dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima
mata uang palsumu

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan

Begitulah caranya
Wahai pejalan !

Biarpun seratus kali engkau ingkar janji
ayuhlah datang, datanglah lagi !

karena Tuhan telah berfirman
ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun sedang terpuruk ke dalam jurang
Ingatlah kepada-Ku
Karena Aku jalan itu


Ps.  Ya Rahman . . . Ya Rahiim . . .
Robbigfirlii . . . (Ya Allah ampunilah dosaku . . .)

Senin, 04 April 2011

Bimbang


Ketika angin ragu bergerak
sementara layang-layang
menunggu terbang

by. nana daesri

gambar taken from : www.ravina-bethebest.blogspot.com

Minggu, 27 Maret 2011

Siapa Rabiah Al Adawiyah ?

Sepenggal nama yang sangat legendaris di dunia tasawuf, bahkan oleh banyak ahli tasawuf ia di nobatkan sebagai perempuan perintis jalan cinta atau mahabbah sebagai cara untuk menyingkap tirai perjumpaan dengan-Nya.

Ajaran utama yang di usung Rabiah adalah cinta (mahabbah). Dan kita tahu bahwa cinta bukan sesuatu yang terberi (given), cinta membutuhkan perjuangan (struggle) dan pengorbanan (sacrafice), tanpa keduanya mustahil cinta bisa di raih.

Jiwa ikhlas dan semangat keras yang ia miliki bermuara dari rasa cinta yang luar biasa kepada Tuhan.  Cinta inilah yang telah mengubah wawasan, pola pikir, serta laku dalam hidup keseharian.  Cinta ini pulalah yang memotivasi dirinya selalu beramal dan terus beramal sepanjang hayat di kandung badan.

Taken from : "Cinta Mistik Rabiah al Adawiyah : Sebuah Memoar Spiritual"
by. Abdul Mun'im Qandil_Penerbit : Mujadalah, Yogyakarta (2003) cetakan ke-2


Ps. Ya  Allah, Ya Lathief . . .
Ajari aku untuk mencintaimu . . 
(by. nana daesri)

Rabu, 23 Maret 2011

Puisi Cinta

by. Rabiah Al Adawiyah

cintaku kepada-Mu, cinta berganda
cinta semata-mata cinta
dan cinta karena Engkau patut di cintai
cinta pertama membuat aku tenggelam
dalam menyebut nama-Mu, lupa yang selain-Mu
cinta kedua karena kerelaan-Mu menyingkap
hijab hingga aku dapat melihat-Mu
aku tidak menyanjungmu-Mu karena ini dan itu
sanjungan itu lahir dari kedua cintaku

Taken from: "Cinta Mistik Rabiah al Adawiyah : Sebuah Memoar Spiritual"
by. Abdul Mun'im Qandil _ Penerbit: Mujadalah, Yogyakarta (2003) cetakan ke-2