Minggu, 10 Juni 2012

Siapa Sapardi Djoko Damono itu ?


Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 72 tahun) adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.

Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Ia tidak saja menulis puisi, namun juga cerita pendek. Selain itu, ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Taken from : http://id.wikipedia.org
Sumber gambar : http://dwitasarii.blogspot.com

by. nana daesri

Ps. Thanks . . .

Pada Suatu Pagi Hari


By. Sapardi Djoko Damono



















Maka pada suatu pagi hari
ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.

Ia ingin
pagi itu hujan turun rintik-rintik
dan lorong sepi
agar ia bisa berjalan
sendiri saja
sambil menangis
dan tak ada orang bertanya kenapa.

ia tidak ingin
menjerit-jerit
berteriak-teriak
mengamuk
memecahkan cermin
membakar tempat tidur.

Ia hanya ingin menangis
lirih saja
sambil berjalan sendiri
dalam hujan rintik-rintik
di lorong sepi
pada suatu pagi.

Sumber gambar : http://fiksi.kompasiana.com

by. nana daesri

Ps. That's what I feel . . . 

Hujan di Bulan Juni

By. Sapardi Djoko Damono










Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


by. nana daesri

Kamis, 24 Mei 2012

Aku ingin Melihatmu Bahagia


Do'aku cukup sederhana
Bagaimanapun dan apapun yang terjadi
aku ingin melihatmu bahagia
tenggelam bersama cinta-Nya
sungguh
itu saja


Sumber gambar : http://ceritadibah.wordpress.com

by. nana daesri


Ps. Semoga Tuhan mengabulkan . . .
     Amien3x ya Rabb . . .

Rabu, 23 Mei 2012

Resep Bahagia


Masa Lalu     =  Jangan selalu di ingat
Masa Depan  =  Jangan di risaukan
Hari Ini           =  Lakukan 100%

Sumber gambar : http://quiltish.blogspot.com

by. nana daesri

Taken from : Anonim (2012)
 

Kebahagiaan



Tidak bisa di cari
Hanya bisa DI BUAT

Sumber gambar : http://andafcian.wordpress.com

by. nana daesri

Ps. Make you happy . . .

Rabu, 16 Mei 2012

Quotes : Menulislah


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, 
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. 
Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
(Pramoedya Ananta Toer : 1925-2006)

Sumber gambar : http://kotaksastra.blogspot.com

by. nana daesri
 
Ps. Mana tulisanmu, na . . . ???